Tampilkan postingan dengan label Semai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Semai. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Januari 2017

Tukang Sayur

Ialah Dianing seorang lulusan sarjana dari UI jurusan ekonomi yang akhirnya memilih untuk menjadi seorang guru TK dhuafa. Suatu saat ketika Dianing sedang menggantikan seorang guru TPA yang cuti karna mabuk berat di usia kehamilan awalnya, salah seorang wali murid TPA yang menunggu anaknya mengaji berkata kepada walimurid TPA yang lain. "Bu Dianing itu tukang sayur ya?" Sang ibu Dianing yang kebetulan ada disana bersama si walimurid sambil menjaga cucu kesayangannya langsung menjawab dengan agak marah. Ibu Dianing menjelaskan bahwa Dianing bukan tukang sayur tapi lulusan sarjana ekonomi dari UI. Dianing hanya tersenyum ketika sang ibu menceritakan perihal kejadian itu dengan nada suara tidak suka.

Nak.. kisah diatas bukanlah fiktif. Dianing adalah bunda. Inilah bunda yang hari ini memilih hanya di rumah membersamai anak-anak bunda sambil mengajar TK dhuafa dan kadang menggantikan guru TPA dhuafa. Inilah bunda yang memilih beraktifitas di rumah mengajar dan mengurus TK dan TPA dhuafa. TK dan TPA ini bukan milik bunda, begitupun rumah yang kakak tinggali hari ini. Tapi qadarullah bunda yang diamanahkan untuk berada di rumah yang setiap hari disibukkan oleh kegiatan sekolah dan mengaji anak-anak, ibu-ibu dan bapak-bapak. Lalu apakah bunda malu ketika bunda disebut tukang sayur? Tidak. Mungkin bunda mirip tukang sayur yang dikenal si walimurid, atau penampilan bunda yang sederhana lebih mirip tukang sayur ketimbang perempuan yang sempat mengenyam bangku perkuliahan? Entahlah.. yang jelas perkataan itu sama sekali tidak melukai bunda. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat?

Nak.. tapi bunda lupa ada seorang ibu yang telah berjuang dengan sekuat tenaganya agar bunda bisa sekolah. Agar bunda bisa menjadi perempuan yang berpendidikan. Ada seorang ibu yang berjuang agar bunda kelak bisa sukses di dunia dengan pekerjaan dan karir yang bagus. Agar bunda bisa membuatnya bangga. 

Nak.. tapi sayang hari ini bunda tidak bisa membuatnya bangga. Baginya kebanggaan adalah ukuran dunia bukan akhirat. Baginya tujuan akhir dari pendidikan tinggi adalah meraih gelar yang dipergunakan untuk meraih penghasilan sebaik-baiknya. Inilah nak yang membuat bunda dan mbah uti menjadi sangat.. sangat berbeda. Bunda tidak paham seberapa marah atau kecewanya mbah uti mendengar kata 'tukang sayur' yang ditujukan untuk bunda. Sama seperti mbah uti tidak pernah paham mengapa bunda hari ini tetap dengan pendirian bahwa bunda hanya akan di rumah saja bersama anak-anak dan menanggalkan gelar sarjana bunda. Bagi mbah uti tugas mengasuh anak-anak bisa dilemparkan kepadanya atau asisten rumah tangga. Sedang bunda harus bekerja agar kehidupan bunda bersama ayah jauh lebih baik dari hari ini. Engkau tau.. Diantara tiga guru TK dhuafa di rumah kita ada salah satunya yang hanya tamat SMA. Lalu apakah kedudukan bunda dan ia jadi berbeda? Tidak. Kami mengajar dengan panggilan hati karna Allah. 

Nak.. Bunda tidak disiapkan untuk menjadi istri yang baik serta ibu yang mengasuh dan mendidik anak, tapi bunda dipersiapkan untuk jadi perempuan berkarir, bekerja dengan ulet agar memperoleh gelar 'sukses' dimatanya. 

Nak.. bunda dan mbah uti adalah perempuan-perempuan dari generasi berbeda yang dibesarkan dengan lingkungan, kondisi dan pengalaman hidup yang berbeda. Itulah yang menyebabkan mengapa sampai hari ini bunda dan mbah uti memiliki cara pandang tentang hidup yang sangat berbeda. Mbah uti adalah perempuan yang hampir tidak pernah mengenyam bangku pendidikan. Setelah menikah ada penyesalan mendalam pada dirinya karena beliau tidak bisa membelanjakan uang suami sekehendaknya. Maka sejak saat itu beliau bertekad menjadikan bunda perempuan yang memiliki finansial freedom untuk diri sendiri tanpa tergantung kepada nafkah suami. Ketahuilah nak.. bahwa pada sebahagian rizki suami ada rizki untuk istri dan anak-anaknya.

Nak.. bunda tidak merasa menjadi lebih baik dari mbah uti dengan kisah di atas. Kalau hari ini bunda mendapat hidayah dari Allah untuk menjadi perempuan yang lebih baik itu tak lain karna doa-doa mbah uti yang bunda tidak pernah tau dan mungkin juga doa-doa mbah uti yang mbah uti sendiri tidak sadar bahwa mbah uti mendoakan segala kebaikan buat bunda. Inilah kekuatan doa seorang ibu nak..
Nak.. setinggi apapun sekolahmu.. tugasmu sebagai perempuan adalah menjadi istri dan ibu. Istri yang menyenangkan hati suami, ibu yang mengasuh dan mendidik anak-anak. Jadilah perempuan-perempuan yang tangguh dengan iman yang kokoh.. karna kelak tugasmu setelah menikah akan semakin berat. Kalian akan menjadi generasi perempuan yang jauh lebih hebat dari bunda. Insya Allah..

Kamis, 08 Desember 2016

212

Nak.. malam itu sekitar pukul 11 ayah berbisik lembut di telinga bunda yang sedang tertidur “bunda, ayah berangkat”. Setengah sadar bunda menanyakan kelengkapan perlengkapan yang akan ayah bawa. Ayah tidak dalam tugas kantor nak.. tapi malam itu ayah akan berangkat kembali untuk seruan aksi. Ayah akan berangkat bersama jamaah lainnya berjalan kaki dari Depok menuju Jakarta, Monas tepatnya. Nak.. inilah aksi umat Islam yang ke-3. Setelah aksi sebelumnya tanggal 4 November lalu. Malam itu bunda tidak bisa tertidur nyenyak. 

Nak.. tahukah engkau? Mengapa umat Islam kembali lagi dalam satu kalimat Aksi Bela Islam? Karena tuntutan umat Islam bahwa sang penista agama harus dijerat hukum belum juga terlaksana. Karna itu kami umat Islam kembali lagi bersatu meminta kepada presiden agar hukum ditegakkan. Agar tidak ada lagi orang-orang kafir yang dengan mudah mulutnya menghina Al-Quran. Agar izzah umat Islam tetap terjaga. Maka kewajiban kami umat Islam membela agama kami. 

Nak.. pagi itu bunda merasakan lelahnya membersamai Kakak Sarah dan Adik Shabira sekaligus mengurus pekerjaan rumah tanpa ayah. Ingin sekali rasanya bunda berkeluh. Ingin sekali meminta ayah lekas pulang. Namun bunda membayangkan betapa lelah bunda tak seberapa dibandingkan ayah yang berjalan kaki berkilo-kilometer malam itu. Dan masih belum seberapa dibandingkan umat Islam yang berjalan kaki beralas sandal dari kota Ciamis. Ketika bus-bus dilarang memberangkatkan jamaah aksi ke Jakarta. Maka mereka dengan niat tulus karna Allah berangkat melangkahkan kakinya. Kaki-kaki yang kelak di yaumil hisab akan berbicara memberi persaksian akan jihadnya di dunia. Kaki-kaki yang lecet dan kelelahan sepanjang perjalanan tidak menyurutkan langkah-langkah mereka. Nak.. tahukah engkau.. bahwa  di sepanjang perjalanan menuju Jakarta warga menyiapkan hidangan-hidangan untuk disantap para mujahid Ciamis. Tanpa disuruh, tanpa diminta, tanpa didanai, sungguh hanya karna Allah. Bukan cuma jemaah dari ciamis nak.. Maka jamaah dari dari bogor, dari bandung pun melangkahkan kaki-kakinya menuju Jakarta. Inilah solidaritas islam nak.. mereka ingin merasakan bagaimana jamaah Ciamis berlelah-lelah karna Allah.

Nak.. hari itu Jumat 2 Desember 2016. Jakarta sekali lagi dipenuhi barsisan-barisan putih membentang dari Monumen Nasional, melebar ke jalan-jalan protokol Jakarta sekitarnya. Seperti suasana haji di Mekah. Jutaaan sajadah membentang memenuhi jalan-jalan besar kota. Shaf-shaf berderet dengan rapih. Taman-taman terjaga dari injakan kaki.  Jumat itu tidak kurang tujuh juta umat muslim menunaikan sholat jumat berjamaah. Salah satu sholat Jumat terbesar sepanjang sejarah umat Islam. Setelah sebelumnya Sultan Muhammad Al-Fatih pada tahun 1453 menggelar sholat Jumat di sepanjang pantai Marmara hingga selat Golden Horn sepanjang 4 km sebelum menaklukkan benteng Konstatinopel. Nak.. bayangkanlah betapa dahsyatnya kekuatan Islam hari itu. Islam yang hari ini di negeri kami seolah-olah tak dipandang, dihina, dipandang sebelah mata, tapi hari itu juga dipersatukan hatinya oleh Allah dalam satu jamaah.

Nak.. Tahukah engkau.. Jutaan manusia hari itu sungguh dalam perlindungan Allah. Hidangan-hidangan melimpah memenuhi ruas jalan yang sengaja terhidang untuk para mujahid-mujahidah. Angin sejuk dan gerimis kecil melindungi para mujahid dari panas dan pengap karna banyaknya orang.
Nak.. yang lebih dasyat lagi adalah ketika Allah mendatangkan hujan besar di tengah-tengah para jamaah sesaat sebelum sholat Jumat dimulai. Seakan-akan Allah sengaja mensucikan para mujahid. Allah hapuskan lelah, amarah dan meneguhkan hati para jamaah aksi hari itu dengan turunnya hujan sebagaimana Allah SWT berfirman:
اِذْ يُغَشِّيْكُمُ النُّعَاسَ اَمَنَةً مِّنْهُ وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ  مِّنَ السَّمَآءِ مَآءً لِّيُطَهِّرَكُمْ بِهٖ وَيُذْهِبَ عَنْكُمْ رِجْزَ  الشَّيْطٰنِ وَلِيَرْبِطَ عَلٰى قُلُوْبِكُمْ وَيُثَبِّتَ بِهِ الْاَقْدَامَ 
"(Ingatlah), ketika Allah membuat kamu mengantuk untuk memberi ketenteraman dari-Nya, dan Allah menurunkan air (hujan) dari langit kepadamu untuk menyucikan kamu dengan (hujan) itu dan menghilangkan gangguan-gangguan setan dari dirimu dan untuk menguatkan hatimu serta memperteguh telapak kakimu (teguh pendirian)."
(QS. Al-Anfal: Ayat 11). 

Tak ada satupun jamaah yang bangkit dari shafnya. Semua khusuk, terharu dalam diam sampai akhir solat yang dititup dengan doa qunut yang panjang. Doa qunut yang sering menjadi perdebatan, tapi tidak hari itu. Inilah umat Islam nak.. bersatu dalam naungan Ilahi. Betapa rindunya kami akan bersatunya umat ini nak..

Nak ketahuilah hari jumat adalah hari dikabulkannya doa. Dan engkau tau? Hujan adalah saat mustajab doa-doa diijabah. Bayangkan jika jamaah saat itu berdoa nak.. Bayangkanlah.. para malaikat turun menaungi para jamaah dan mengaminkan doa para jamaah. 

Nak.. betapa irinya bunda kepada para jamaah aksi yang hadir hari itu. Tapi inilah jihad bunda.. mengurus rumah dan dua mujahidah kecil bunda yang kelak akan meneruskan perjuangan ayah dan para mujahid 212 hari itu. Nak.. ingatlah.. tolonglah agama Allah dan Allah akan menolongmu..

Depok, 7 Desember 2016
Sambil memangku adik yang sedang tertidur karna sakit.

Rabu, 02 November 2016

Hijiyah Berkisah

Assalamu'alaaikum anak-anak ahlul quran.. 

Apa kabar anak-anak bunda hari ini? Semoga iman masih terhujam dalam dadamu nak..

Beberapa bulan lalu bunda mengikuti pelatihan Balita Khatam Quran oleh Ustadzah Sarmini yang diadakan oleh komunitas Home Schooling Muslim Nusantara (HSMN). Berhubung bunda berencana meng-HomeSchooling-kan anak-anak bunda maka grup HSMN ini adalah salah satu upaya bunda lebih dekat dengan aktivitas keluarga Homeschooler. Bunda ingin sekali belajar bagaimana Ustadzah Sarmini membuat metode pada anak balita agar bisa mengkhatamkan Quran. Alhamdulillah dengan support ayah, bunda bisa ikut. Ternyata menarik sekali pelatihannya. Setelah mengikuti pelatihan bunda dengan semangat ingin langsung praktekan di rumah untuk kakak Sarah. Kakak Sarah hari ini usianya dua tahun sembilan bulan dan sudah paham beberapa huruf hijaiyah. Sedang adik Shabira baru berusia sembilan bulan. Belum pas diajarkan baca Quran karna belum bisa bicara. 

Menariknya di awal pelatihan Ibu Sarmini langsung menyuruh para peserta menggambar dua huruf hijaiyah ber-fathah di kertas A4 yang sudah sebelumnya dilipat dua secara horizontal. Peserta menggambar menggunakan spidol yang sudah disediakan panitia. Dua huruf tersebut harus berbeda warna dan harokat fathahnya juga harus berbeda warna. Ketebalan huruf harus 1 cm. Lalu di sekeliling huruf ber-fathah diberi frame yang berbeda dengan warna yang berbeda pula. Huruf yang ditulis haruslah kategori huruf mudah diucapkan oleh anak balita seperti a, ba, ta, la, ma dst. tetapi tidak boleh memiliki bentuk yang sama seperti ba dan ta. Bunda menggambar a dan ba. Bagi bunda menyenangkan karna bunda suka menggambar. Langkah selanjutnya tidak bisa diceritakan disini karna terlalu panjang. Anak-anak bunda bisa berguru kepada Ustadzah Sarmini kelak. Kebetulan beliau punya pesantren bernama Utrujah. Anak-anak bunda bisa belajar di pesantren beliau kelak atau malah bisa berguru untuk menjadi guru cucu-cucu bunda nantinya. Mengapa Ibu Sarmini menyuruh membuat huruf-huruf berbeda warna dengan ketebalan tertentu dan dengan frame yang berbeda pula? Agar anak-anak mudah mengingat gambar huruf-huruf tersebut. 

Pelatihan hampir seharian full lho. Dari pagi hingga menjelang ashar. Bunda membawa serta adik Shabira. Sementara kakak Sarah bersama ayah. Berbagi pengasuhan agar kegiatan menuntut ilmu menjadi lebih efektif. Alhamdulillah bunda bersyukur adik bisa diajak kerjasama. Karena selama pelatihan adik tertidur pulas. Kalaupun bangun Shabira main sendiri dan tidak banyak menangis. Senang sekali rasanya bisa belajar dengan leluasa. Karena keinginan bunda untuk belajar masih sangat tinggi. Terimakasih Shabira sholehah..

Sepulang dari pelatihan dengan semangat bunda ceritakan isi pelatihan ke ayah. Lalu mulai praktek membuat gambar-gambar huruf hijaiyah menggunakan spidol. Setelah mencoba membuat, dalam hati bunda berkata "Lho kok jelek ya? Nanti kalau mau dipraktekkan ke anak-anak TPA di rumah bagaimana? Bunda membuat huruf-huruf ini untuk Kakak Sarah. Nanti bunda harus bikin lagi untuk anak-anak TPA ya?". Dari situlah bunda mencoba membuat gambar huruf hijaiyah versi digital di laptop lalu ditulis di blog bunda. Harapan bunda agar nanti setiap orangtua atau guru bisa menggunakan gambar huruf hijaiyah yang bunda buat dan dapat diakses dengan mudah melalui jaringan internet. Mudah-mudah tidak hanya kakak Sarah yang merasakan manfaatnya tapi juga anak-anak muslim lainnya. Berfikir besar untuk kebermanfaatan umat.. Ini yang bunda bisa lakukan. Kelak anak-anak bunda akan membawa kebermanfaatan bagi umat yang jauh lebih besar.. Mudah-mudahan ini menjadi amal jariyah bunda yang dicatat dan diberi pahala oleh Allah nantinya.. aamiiin.. 

Nah.. supaya belajarnya lebih berkesan, bunda ingin sisipkan sebuah kisah di setiap huruf. Kisah-kisahnya berasal dari Quran atau kisah-kisah orang-orang sholeh, kisah-kisah yang tidak akan lekang dimakan waktu. Tidak akan terkikis oleh zaman. Ketauhilah anak-anakku.. kisah-kisah ini yang akan membentuk karakter seseorang menjadi pribadi yang hebat. Kisah-kisah ini yang akan mengantarkan kalian menjadi pemimpin-pemimpin hebat di masa depan. Resapilah.. masuklah ke dalamnya.. lalu ambillah hikmahnya.. kalian akan menemukan banyak pelajaran dari kisah-kisah ini. 

Selamat manikmati 28 Hijaiyah Berkisah. 

Wassalamu'alaikum..

Selasa, 25 Oktober 2016

Semangat Menuntut Ilmu


Assalamu'alaikum anak-anak bunda tersayang.. kakak sarah dan ade shabira..
Bunda mau cerita..

Kemarin teman kuliah bunda di Politeknik Negeri Jakarta bertanya ketika ia mengajak bunda reunian bersama beberapa teman dekat. Bunda katakan bunda tidak bisa hadir jikalau reunian hari minggu tanggal 30 Oktober karna ada kuliah. Ia bertanya apa bunda melanjutkan ke S2? Dalam hati sih inginnya seperti itu, melanjutkan kuliah S2. Tapi apa daya waktu, dana dan kesempatan yang belum ada. Lalu bunda sodorkan foto jadwal perkulihan Kuliah Tematik Parenting Mommee. Walaupun belum bisa melanjutkan ke S2, bunda tetap semangat menuntut ilmu.

Sejak bunda hamil kakak Sarah, ayah dan bunda mulai sadar bahwa kami harus belajar jadi orangtua. Walaupun telat kami harus tetap semangat belajar. Baiknya belajar menjadi orangtua dimulai dari mempersiapkan diri sebelum menikah lalu memilih pasangan hidup. Ayah dan bunda belajar mulai dari menghadiri seminar-seminar parenting dari yang tak berbayar sampai yang berbayar. Kalau dana tidak mencukupi maka bunda yang biasanya mengikuti seminar. Ayah dan bunda harus bekerjasama ketika bunda menghadiri seminar-seminar parenting. Apalagi dengan kehadiran kakak dan ade hari ini tidak mudah bagi kami menuntut ilmu. Kakak bersama ayah di rumah lalu ade yang masih menyusui bunda bawa. Itu jauh lebih efektif dan efisien daripada  ayah dan bunda mengikuti semniar bersama mengikutsertakan kakak dan ade. Karna kebutuhan kakak adalah bermain, jadi kadang bosan kalau harus duduk rapih di majelis ilmu. 

Sementara ayah lebih sering mendengarkan kajian-kajian parenting atau lainnya lewat laptop dengan mendownload video lalu dilihat ketika malam hari. Makanya ayah suka tidur malam. Karna hanya di waktu malam hari itu ayah bisa mendengarkan kajian.  Begitulah cara kami menuntut ilmu. Ketika ayah dan bunda hari ini tetap semangat menintut ilmu, bunda juga ingin anak-anak bunda cinta akan ilmu, haus akan ilmu. Karna ketauhilah nak, orang-orang yang menuntut ilmu ditinggikan derajatnya oleh Allah seperti ayat quran ini.
“Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Mujadilah (58): 11).

Biasanya setelah seminar bunda menceritakan kembali isi seminar ke ayah sesampainya di rumah sambil berdiskusi ringan. Begitu pula ayah. Ayah akan menyampaikan isi kajian yang menurutnya bagus untuk disampaikan ke bunda. Ngobrol dengan ayah itu sesuatu yang menyenangkan. Mungkin karna bunda perempuan yang butuh mengeluarkan 20.000 kata per hari. Ngobrol dari isi seminar sampai segala unek-unek mengasuh kakak dan ade biasanya tercurah ketika ngobrol ringan dengan ayah di malam hari setelah kakak dan ade tidur. Itu kalau bunda tidak ikut tertidur bersama kakak dan ade. Sering juga ayah dan bunda diskusi ketika makan bersama. Setelah diskusi ringan ayah suka memeluk bunda. Rasanya dipeluk ayah itu lega. Seakan-akan kelelahan bunda hari ini membersamai anak-anak bunda menjadi hilang. Ngobrol dengan ayah lalu dipeluk ayah menjadikan bunda tetap bahagia mengasuh anak-anak bunda. Bunda bersyukur karna ayah paham bahwa bunda butuh bahagia agar bisa mengasuh dengan bahagia. Caranya dengan ngobrol, memeluk bunda atau kadang membawakan sop durian sepulang ngajar. Dan sop duriannya cuma buat bunda, kakak dan ade ga dibagi.. hehehe

Sekian dulu surat bunda..
Mau mempersiapkan diri untuk menuntut ilmu belajar quran.. semangat!!!
Wassalamu'alaikum

Depok, Sabtu 22 Oktober 2016
Pukul 03.52 WIB
Menikmati dinginnya shubuh yang dihiasi hujan..

#sejutaemailuntukanakindonesia
#spiritsemai

Senin, 17 Oktober 2016

Allah sebaik-baik Tempat Meminta


Bismillahirrahmanirrahiim

Assalamu'alaikum kakak Sarah yang lembut..

Ini email pertama yang bunda kirim untuk kakak. Mudah-mudahan ketika kakak membaca email suatu saat nanti, kakak dalam keadaan terbaik dan selalu dalam perlindungan Allah dimanapun kakak berada.
Alhamdulillah hari ini bunda menulis dengan semangat memenuhi tugas SEMAI dari kuliah parenting Mommee. Apa itu Semai? Insya Allah akan bunda ceritakan di surat selanjutnya. 

Tanggal 27 Oktober 2016 nanti kakak berusia dua tahun sembilan bulan. Kakak sudah semakin besar. Sudah pandai makan dan mengambil minum sendiri. Sudah pandai ke kamar mandi sendiri. Sudah pandai memakai jilbab dan celana sendiri. Sudah pandai memilih baju sendiri. Sudah semakin banyak kebisaan kakak.

Pagi tadi kakak membantu bunda menjaga ade di masjid ketika bunda ingin ke kamar mandi. Bunda titipkan anak-anak bunda ke Allah dan percayakan ade dijaga oleh kakak, karna peserta tahsin pagi itu sudah pada pulang dan pengajar-pengajar akhwat sedang solat dhuha.  Ustadzah Anda, bu guru tahsin bunda bilang "Udah punya ade jadi dewasa ya. Adenya dijagain". Alhamdulillah anak bunda sudah semakin dewasa. Terimakasih kakak sudah membantu bunda menjaga ade hari ini. Kelak ketika ayah dan bunda tidak ada. Kakak yang akan selalu menjaga adik-adik dengan penuh sayang karna Allah. 

Oiya ingat tidak kemarin lalu bunda bilang mau belikan quran buat kakak? Itu karna kakak sering merebut quran bunda ketika bunda sedang tilawah. Katanya kakak mau baca quran juga. Mestinya bunda selalu sedia dua quran ketika tilawah ya.. menyiasati kalau-kalau kakak mau baca quran juga. Tapi bunda selalu lupa. Lalu bunda pikir belikan saja quran khusus buat kakak. Jadi kakak sama bunda bisa tilawah bareng. Walaupun baca saja kakak belum bisa, yang penting semangat membaca quran itu selalu ada. Hari ini ternyata keinginan bunda dan kakak terkabul. Tiba-tiba di rumah mbah ada quran kecil mungil berwarna merah diletakkan di sebuah paper bag yang juga mungil bersama sebuah tasbih mungil. Bunda yang penasaran bertanya kepada mbah, punya siapa qurannya? Kata mbah itu oleh-oleh buat Sarah dari Pak Abadi. Ya Allah alhamdulillah ya kak. Itu rizki kakak yang tak diduga-duga. Padahal kita belum sempat berdoa ke Allah kalau kakak mau bunda belikan quran yaa. Sesudah solat kakak suka minta pangku bunda lalu bunda ajak kakak berdoa apa saja yang kakak ingin. Beberapa minggu ini kakak minta sama Allah biar punya sepeda anak-anak, sepatu roda anak-anak, helm anak-anak dan buku. Tapi belum sempat minta quran. Alhamdulillah helm kakak sudah punya. Allah Maha Mendengar permintaan hamba-Nya ya kak. Dan yakinlah Allah akan mengabulkan doa-doa hamba-Nya apabila kita berdoa. Allah sebaik-baik tempat meminta.

Sekian dulu surat dari bunda.
Peluk erat bunda.
Depok, 15 Oktober 2016
Sambil memandangi kakak yang sedang tertidur..