Tampilkan postingan dengan label Sarah Savaira Althafunnisa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sarah Savaira Althafunnisa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Januari 2017

Assalamu'alaikum kakak Sarah yang pemberani. Berani karna Allah.. Takut juga karena Allah..

Berikut bunda kirimkan beberapa foto liburan Kakak Sarah bersama Ade Shabira dan bunda di Sukabumi di rumah Kakak Icha. Senang lihat kakak Sarah begitu semangat mau lihat gunung dan sawah. Bunda juga senang bisa liburan di Sukabumi walaupun cuma sehari. Cuacanya yang adem, airnya yang sejuk dan dingin, pemandangan gunung dan sawah yang terhampar sepanjang perjalanan, tetangga yang ramah, keluarga kakak Icha yang baik, makanan sederhana yang dimakan bersama-sama sambil duduk di lantai semakin membuat nikmat..

Ada di satu foto, kakak Sarah sedang memegang sebuah batu. Bunda lupa sejak kapan kakak suka sekali mengumpulkan batu. Dimanapun ketika diajak pergi dan menemukan batu, kakak langsung sibuk memungut dan mengantonginya. Bunda tidak pernah melarang. Bunda pikir pasti ada yang menarik dari batu hingga kakak begitu antusias mengumpulkan batu, tak peduli kotornya tanah tempat si batu berada. Tak jarang baju dan jilbab juga menjadi kotor karna dipakai untuk mengelap tangan. Ketika kakak menangis tak terhingga, bunda bujuk dengan memberi kakak beberapa buah batu kakak langsung terdiam. Maka di surat ini bunda beri judul 'anak batu'. Dan ternyata bunda baru tahu kalau anak batu itu julukan dari Ibnu Hajar. Siapa Ibnu Hajar? Berikut bunda ambil kisah Ibnu Hajar dari
http://www.duniaislam.org/12/04/2015/kisah-ibnu-hajar-si-anak-batu-yang-menjadi-ulama-besar/
Kisah Ibnu Hajar Al Asqalani, beliau adalah seorang anak yatim, Ayahnya meninggal pada saat beliau masih berumur 4 tahun dan ibunya meninggal ketika beliau masih balita. Di bawah asuhan kakak kandungnya, beliau tumbuh menjadi remaja yang rajin, pekerja keras dan sangat berhati-hati dalam menjalani kehidupannya serta memiliki kemandirian yang tinggi. Beliau dilahirkan pada tanggal 22 sya’ban tahun 773 Hijriyah di pinggiran sungai Nil di Mesir.

Nama asli beliau adalah Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Ahmad bin Hajar Al-Kannani Al-Qabilah yang berasal dari Al-Asqalan. Namun ia lebih masyhur dengan julukan Ibn Hajar Al Asqalani. Ibnu Hajar berarti anak batu sementara Asqalani adalah nisbat kepada ‘Asqalan’, sebuah kota yang masuk dalam wilayah Palestina, dekat Ghuzzah.

Suatu ketika, saat beliau masih belajar disebuah madrasah, ia terkenal sebagai murid yang rajin, namun ia juga dikenal sebagai murid yang bodoh, selalu tertinggal jauh dari teman-temannya. Bahkan sering lupa dengan pelajaran-pelajaran yang telah di ajarkan oleh gurunya di sekolah yang membuatnya patah semangat dan frustasi.

Beliaupun memutuskan untuk pulang meninggalkan sekolahnya. Di tengah perjalanan pulang, dalam kegundahan hatinya meninggalkan sekolahnya, hujan pun turun dengan sangat lebatnya, mamaksa dirinya untuk berteduh didalam sebuah gua. Ketika berada didalam gua pandangannya tertuju pada sebuah tetesan air yang menetes sedikit demi sedikit jatuh melubangi sebuah batu, ia pun terkejut. Beliau pun berguman dalam hati, sungguh sebuah keajaiban. Melihat kejadian itu beliaupun merenung, bagaimana mungkin batu itu bisa terlubangi hanya dengan setetes air. Ia terus mengamati tetesan air itu dan mengambil sebuah kesimpulan bahwa batu itu berlubang karena tetesan air yang terus menerus. Dari peristiwa itu, seketika ia tersadar bahwa betapapun kerasnya sesuatu jika ia di asah trus menerus maka ia akan manjadi lunak. Batu yang keras saja bisa terlubangi oleh tetesan air apalagi kepala saya yang tidak menyerupai kerasnya batu. Jadi kepala saya pasti bisa menyerap segala pelajaran jika dibarengi dengan ketekunan, rajin dan sabar.

Sejak saat itu semangatnya pun kembali tumbuh lalu beliau kembali ke sekolahnya dan menemui Gurunya dan menceritakan pristiwa yang baru saja ia alami. Melihat semangat tinggi yang terpancar dijiwa beliau, gurunya pun berkenan menerimanya kembali untuk menjadi murid disekolah itu.
Sejak saat itu perubahan pun terjadi dalam diri Ibnu Hajar. Beliau manjadi murid yang tercerdas dan malampaui teman-temannya yang telah manjadi para Ulama besar dan ia pun tumbuh menjadi ulama tersohor dan memiliki banyak karangan dalam kitab-kitab yang terkenal dijaman kita sekarang ini. Di antara karya beliau yang terkenal ialah: Fathul Baari Syarh Shahih Bukhari, Bulughul Marom min Adillatil Ahkam, al Ishabah fi Tamyizish Shahabah, Tahdzibut Tahdzib, ad Durarul Kaminah, Taghliqut Ta’liq, Inbaul Ghumr bi Anbail Umr dan lain-lain.

Bahkan menurut muridnya, yaitu Imam asy-Syakhawi, karya beliau mencapai lebih dari 270 kitab. Sebagian peneliti pada zaman ini menghitungnya, dan mendapatkan sampai 282 kitab. Kebanyakan berkaitan dengan pembahasan hadits, secara riwayat dan dirayat (kajian).

Dalam setiap kisah selalu ada hikmah. Semoga kakak dapat memetik hikmah dari kesukaan kakak kepada batu. Sesuatu yang kakak suka akan kakak ingat selamanya. Semoga kisah Ibnu Hajar ini juga menjadi pelajaran bagi ayah dan bunda dalam berusaha mewujudkan cita-cita kami, dalam mendidik anak-anak ayah dan bunda, dan dalam banyak hal di kehidupan kami.
Peluk hangat bunda untukmu selalu.

Wassalamu'alaikum.
Sabtu, 7 Januari 2017

Selasa, 15 November 2016

Anak Hujan

Assalamu'alaikum..

Apa kabar anak hujan hari ini? 

Tahu tidak? Hari minggu lalu bunda senang sekali bersama kakak bermain hujan. Bunda lupa kali keberapa bunda bermain hujan bersama kakak. Bunda ingat dulu pertama kali bunda ajak kakak mengenal rasanya air hujan jatuh langsung menyentuh kulit kepala. Hari itu hujan gerimis. Kakak setengah takut tapi ingin ketika bunda tiba-tiba saja mengajak kakak bermain hujan di luar rumah. Di depan rumah kita tidak heran melihat anak-anak menyambut gembira datangnya hujan. Dari balita hingga usia baligh larut dalam kesenangan berakrab ria dengan hujan. Bermain bola tendang, berlari kesana kemari sambil menadahkan air hujan layaknya tarian menyambut hujan, bermain kubangan air dan pasir jalanan sambil melantai di tanah, hingga saling memandikan air kubangan sambil tertawa riang. Tak pernah takut sakit karna hujan, tak pernah takut kotor, juga kadang tak takut petir yang menyambar-nyambar. Inilah mereka sang anak-anak hujan. Mereka yang begitu bergembira ketika hujan datang. Sayang sekali di satu sudut teras rumah ada seorang anak laki-laki duduk dengan khusuk memainkan jari-jemarinya di layar handphone sambil sesekali mencuri pandang ke arah sang anak-anak hujan. Tidakkah ia cemburu melihat sang anak-anak hujan yang sedang bergembira?

Sore itu titik-titik hujan turun begitu lebat. Sementara Ayah sedang menyelesaikan tugasnya di rumah.. bunda, kakak dan adik di rumah mbah. Bunda tanpa ragu mengajak kakak bermandi hujan yang langsung disambut oleh keceriaan kakak. Syukurlah mbah kumis dan mbah uti tidak melarang. Mbah uti paham karna bunda sering mengajak kakak Sarah bermandi hujan di rumah, tapi tidak di rumah mbah. Dimulailah keceriaan kita. Mulai dari menikmati satu tetes demi tetes air hujan yang jatuh dari atas pohon di teras rumah. Merasakan setiap dinginnya tetesan air meresap ke dalam kulit. Hingga menikmati perjalanan dedaunan di selokan besar yang terluap oleh derasnya air. Terlihat jalanan lengang karna hanya bunda dan kakak yang bermain-main bersama hujan. Rasanya agak aneh karna jalanan begitu sepi di kala hujan.

Tapi tak lama bunda merasa bersalah karna ada tetangga yang terusik dengan kesenangan kita. Mungkin ia khawatir bunda dan kakak akan sakit karna dinginnya air hujan. Raut wajahnya menampakkan wajah begitu khawatir, sehingga ia membukakan pintu garasinya lebar-lebar agar kita masuk. Bunda yakinkan padanya bahwa kakak dan bunda sedang bermain hujan. Akhirnya bermain hujan sore itu berakhir dengan seyum riang di wajah kakak. Sementara adik menunggu kita di dalam rumah bersama mbah.

Dari kisah Anas bin Malik.. Anas berkata: Kami bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kehujanan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyingkap pakaiannya agar terkena air hujan. Kami bertanya: Ya Rasulullah, mengapa kau lakukan ini? Beliau menjawab, “Karena ia baru saja datang dari Tuhannya ta’ala.” (HR. Muslim).

An Nawawi menjelaskan hadits ini, “Maknanya bahwa hujan adalah rahmat, ia baru saja diciptakan Allah ta’ala. Maka kita ambil keberkahannya. Hadits ini juga menjadi dalil bagi pernyataan sahabat-sahabat kami bahwa dianjurkan saat hujan pertama untuk menyingkap –yang bukan aurat-, agar terkena hujan.” (Al Minhaj)

Ibnu Rajab dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa para sahabat Nabi pun sengaja hujan-hujanan seperti Utsman bin Affan. Demikian juga Abdullah bin Abbas, jika hujan turun dia berkata: Wahai Ikrimah keluarkan pelana, keluarkan ini, keluarkan itu agar terkena hujan. Ibnu Rajab juga menyebutkan bahwa Ali bin Abi Thalib jika sedang hujan, keluar untuk hujan-hujanan. Jika hujan mengenai kepalanya yang gundul itu, dia mengusapkan ke seluruh kepala, wajah dan badan kemudian berkata: Keberkahan turun dari langit yang belum tersentuh tangan juga bejana. Abul Abbas Al Qurthubi juga menjelaskan, “Ini yang dilakukan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk mencari keberkahan dengan hujan dan mencari obat. Karena Allah ta’ala telah menamainya rahmat, diberkahi, suci, sebab kehidupan dan menjauhkan dari hukuman. Diambil dari hadits: penghormatan terhadap hujan dan tidak boleh merendahkannya.” (Al Mufhim)

Bahkan para ulama; Al Bukhari dalam Shahihnya dan Al Adab Al Mufrod, Muslim dalam Shahihnya, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnafnya, Ibnu Hibban dalam shahihnya, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubro. Semuanya menuliskan bab khusus dalam kitab-kitab hadits mereka tentang anjuran hujan-hujanan. (Bunda kutip dari tulisan Ustad Budi Ashari di www.parentingnabawiyah.com)

Bermandi hujanlah.. nikmati hujan sebagai sebuah berkah.. bayangkanlah jika yang jatuh dari ketinggian yang demikian bukan tetesan air, melainkan batu.. Apa yang terjadi? Masya Allah.. Betapa baiknya Allah menurunkan hujan dalam tetesan air ya nak..

Rabu, 16 November 2016
Dini hari duduk dalam sepi..

Selasa, 25 Oktober 2016

Semangat Menuntut Ilmu


Assalamu'alaikum anak-anak bunda tersayang.. kakak sarah dan ade shabira..
Bunda mau cerita..

Kemarin teman kuliah bunda di Politeknik Negeri Jakarta bertanya ketika ia mengajak bunda reunian bersama beberapa teman dekat. Bunda katakan bunda tidak bisa hadir jikalau reunian hari minggu tanggal 30 Oktober karna ada kuliah. Ia bertanya apa bunda melanjutkan ke S2? Dalam hati sih inginnya seperti itu, melanjutkan kuliah S2. Tapi apa daya waktu, dana dan kesempatan yang belum ada. Lalu bunda sodorkan foto jadwal perkulihan Kuliah Tematik Parenting Mommee. Walaupun belum bisa melanjutkan ke S2, bunda tetap semangat menuntut ilmu.

Sejak bunda hamil kakak Sarah, ayah dan bunda mulai sadar bahwa kami harus belajar jadi orangtua. Walaupun telat kami harus tetap semangat belajar. Baiknya belajar menjadi orangtua dimulai dari mempersiapkan diri sebelum menikah lalu memilih pasangan hidup. Ayah dan bunda belajar mulai dari menghadiri seminar-seminar parenting dari yang tak berbayar sampai yang berbayar. Kalau dana tidak mencukupi maka bunda yang biasanya mengikuti seminar. Ayah dan bunda harus bekerjasama ketika bunda menghadiri seminar-seminar parenting. Apalagi dengan kehadiran kakak dan ade hari ini tidak mudah bagi kami menuntut ilmu. Kakak bersama ayah di rumah lalu ade yang masih menyusui bunda bawa. Itu jauh lebih efektif dan efisien daripada  ayah dan bunda mengikuti semniar bersama mengikutsertakan kakak dan ade. Karna kebutuhan kakak adalah bermain, jadi kadang bosan kalau harus duduk rapih di majelis ilmu. 

Sementara ayah lebih sering mendengarkan kajian-kajian parenting atau lainnya lewat laptop dengan mendownload video lalu dilihat ketika malam hari. Makanya ayah suka tidur malam. Karna hanya di waktu malam hari itu ayah bisa mendengarkan kajian.  Begitulah cara kami menuntut ilmu. Ketika ayah dan bunda hari ini tetap semangat menintut ilmu, bunda juga ingin anak-anak bunda cinta akan ilmu, haus akan ilmu. Karna ketauhilah nak, orang-orang yang menuntut ilmu ditinggikan derajatnya oleh Allah seperti ayat quran ini.
“Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Mujadilah (58): 11).

Biasanya setelah seminar bunda menceritakan kembali isi seminar ke ayah sesampainya di rumah sambil berdiskusi ringan. Begitu pula ayah. Ayah akan menyampaikan isi kajian yang menurutnya bagus untuk disampaikan ke bunda. Ngobrol dengan ayah itu sesuatu yang menyenangkan. Mungkin karna bunda perempuan yang butuh mengeluarkan 20.000 kata per hari. Ngobrol dari isi seminar sampai segala unek-unek mengasuh kakak dan ade biasanya tercurah ketika ngobrol ringan dengan ayah di malam hari setelah kakak dan ade tidur. Itu kalau bunda tidak ikut tertidur bersama kakak dan ade. Sering juga ayah dan bunda diskusi ketika makan bersama. Setelah diskusi ringan ayah suka memeluk bunda. Rasanya dipeluk ayah itu lega. Seakan-akan kelelahan bunda hari ini membersamai anak-anak bunda menjadi hilang. Ngobrol dengan ayah lalu dipeluk ayah menjadikan bunda tetap bahagia mengasuh anak-anak bunda. Bunda bersyukur karna ayah paham bahwa bunda butuh bahagia agar bisa mengasuh dengan bahagia. Caranya dengan ngobrol, memeluk bunda atau kadang membawakan sop durian sepulang ngajar. Dan sop duriannya cuma buat bunda, kakak dan ade ga dibagi.. hehehe

Sekian dulu surat bunda..
Mau mempersiapkan diri untuk menuntut ilmu belajar quran.. semangat!!!
Wassalamu'alaikum

Depok, Sabtu 22 Oktober 2016
Pukul 03.52 WIB
Menikmati dinginnya shubuh yang dihiasi hujan..

#sejutaemailuntukanakindonesia
#spiritsemai

Senin, 17 Oktober 2016

Allah sebaik-baik Tempat Meminta


Bismillahirrahmanirrahiim

Assalamu'alaikum kakak Sarah yang lembut..

Ini email pertama yang bunda kirim untuk kakak. Mudah-mudahan ketika kakak membaca email suatu saat nanti, kakak dalam keadaan terbaik dan selalu dalam perlindungan Allah dimanapun kakak berada.
Alhamdulillah hari ini bunda menulis dengan semangat memenuhi tugas SEMAI dari kuliah parenting Mommee. Apa itu Semai? Insya Allah akan bunda ceritakan di surat selanjutnya. 

Tanggal 27 Oktober 2016 nanti kakak berusia dua tahun sembilan bulan. Kakak sudah semakin besar. Sudah pandai makan dan mengambil minum sendiri. Sudah pandai ke kamar mandi sendiri. Sudah pandai memakai jilbab dan celana sendiri. Sudah pandai memilih baju sendiri. Sudah semakin banyak kebisaan kakak.

Pagi tadi kakak membantu bunda menjaga ade di masjid ketika bunda ingin ke kamar mandi. Bunda titipkan anak-anak bunda ke Allah dan percayakan ade dijaga oleh kakak, karna peserta tahsin pagi itu sudah pada pulang dan pengajar-pengajar akhwat sedang solat dhuha.  Ustadzah Anda, bu guru tahsin bunda bilang "Udah punya ade jadi dewasa ya. Adenya dijagain". Alhamdulillah anak bunda sudah semakin dewasa. Terimakasih kakak sudah membantu bunda menjaga ade hari ini. Kelak ketika ayah dan bunda tidak ada. Kakak yang akan selalu menjaga adik-adik dengan penuh sayang karna Allah. 

Oiya ingat tidak kemarin lalu bunda bilang mau belikan quran buat kakak? Itu karna kakak sering merebut quran bunda ketika bunda sedang tilawah. Katanya kakak mau baca quran juga. Mestinya bunda selalu sedia dua quran ketika tilawah ya.. menyiasati kalau-kalau kakak mau baca quran juga. Tapi bunda selalu lupa. Lalu bunda pikir belikan saja quran khusus buat kakak. Jadi kakak sama bunda bisa tilawah bareng. Walaupun baca saja kakak belum bisa, yang penting semangat membaca quran itu selalu ada. Hari ini ternyata keinginan bunda dan kakak terkabul. Tiba-tiba di rumah mbah ada quran kecil mungil berwarna merah diletakkan di sebuah paper bag yang juga mungil bersama sebuah tasbih mungil. Bunda yang penasaran bertanya kepada mbah, punya siapa qurannya? Kata mbah itu oleh-oleh buat Sarah dari Pak Abadi. Ya Allah alhamdulillah ya kak. Itu rizki kakak yang tak diduga-duga. Padahal kita belum sempat berdoa ke Allah kalau kakak mau bunda belikan quran yaa. Sesudah solat kakak suka minta pangku bunda lalu bunda ajak kakak berdoa apa saja yang kakak ingin. Beberapa minggu ini kakak minta sama Allah biar punya sepeda anak-anak, sepatu roda anak-anak, helm anak-anak dan buku. Tapi belum sempat minta quran. Alhamdulillah helm kakak sudah punya. Allah Maha Mendengar permintaan hamba-Nya ya kak. Dan yakinlah Allah akan mengabulkan doa-doa hamba-Nya apabila kita berdoa. Allah sebaik-baik tempat meminta.

Sekian dulu surat dari bunda.
Peluk erat bunda.
Depok, 15 Oktober 2016
Sambil memandangi kakak yang sedang tertidur..

Minggu, 11 September 2016

Anak Bertanya

Beberapa hari lalu kakak dan bunda membaca buku kumpulan hadits anak bada magrib. Tidak setiap bada magrib bunda membacakan buku, kadang-kadang bunda hanya mengajak ngobrol kakak di tempat tidur bersama ade. Bada magrib memang sering bunda manfaatkan untuk bersama-sama kakak dan ade sambil menemani waktu menjelang tidur. Biasanya antara jam 7-8 anak-anak bunda sudah tertidur pulas. Dan seringnya bunda pun ikut tertidur bersama. Tidur lebih awal dan bangun lebih awal. Begitu polanya ya kak..
Hari itu ada yang menarik dari kegiatan membaca buku hadits anak. Ketika di bagian hadits tentang bersiwak atau menggosok gigi ada sebuah gambar seorang anak laki-laki sedang menggosok gigi di wastafel kamar mandi menghadap cermin. Tiba-tiba saja kakak bilang "masa mandinya pake celana". Bunda yang tak pernah terfikir tentang itu jadi bertanya balik pada kakak. "Oiya ya.. masa mandinya pake celana. Kakak kalo mandi pake celana ga?". "Engga", jawabnya polos. Ternyata memang ada yang aneh. Kalau yang dimaksud di gambar anak laki-laki sedang mandi lalu menggosok gigi semestinya memang tidak berbusana. Tapi kan tidak mungkin menggambarkan anak laki-laki tanpa busana di kumpulan buku hadits atau di buku anak manapun. Bisa-bisa tidak jadi terbit bukunya. Makanya di gambar anak laki-lakinya hanya memakai celana pandek. Dalam logika kakak mandi ya tanpa busana tidak memakai celana. Jadi dengan polosnya kakak berkata demikian. Mungkin akan lebih baik si anak laki-laki sedang menggosok gigi sebelum tidur dengan pakaian lengkap dibandingkan gambar anak laki-laki dengan celana pendek ya.
Suatu kali juga pernah ketika bunda sedang setrika baju. Kakak memperhatikan di samping bunda sambil merengek minta memegang setrikaan. Bunda kasih kesempatan sebentar kakak memegang setrikaan sambil memberi pengertian bahwa setrikaan itu ketika dipakai panas harus hati-hati. Lalu yang menarik adalah kakak dengan polosnya bertanya "Kok setrikanya berhenti-berhenti sih?".  Bunda tersenyum dan bilang "iya bajunya dirapihin dulu baru disetrika". Rupanya kakak memperhatikan bagaimana bunda sebentar-sebentar meletakkan setrikaan lalu membenarkan posisi baju lalu mengambil setrikaan untuk melanjutkan menyetrika baju.
Anak bunda sudah mulai kritis rupanya ya.. Bunda harus siap-siap nih menerima seribu tanya dari kakak. Ayah juga sudah mengigatkan bunda. Pesan ayah bunda ga boleh bosen menerima pertanyaan-pertanyaan anak-anak bunda nanti.

Minggu, 28 Agustus 2016

Sertifikat ASI S2 Sarah

Hari ini usia kakak Sarah sudah dua tahun tujuh bulan. Alhamdulillah bunda bisa posting sertifikat ASI S2 kakak di enam bulan kedua. Maaf ya kakak, karna bunda telat postingnya. Posting sertifikat ASIXnya ada di blog yang satunya. Biar bareng ade, bunda posting di blog ini aja yaa. Tapi sayangnya ini sertifikat terakhir kakak. Kakak ga punya sertifikat ASI S3 karna kakak berhenti menyusui ketika umur satu tahun tiga bulan. Waktu itu pas bunda hamil ade Shabira. Di awal kehamilan bunda kakak tiba-tiba saja langsung ga mau mimi. Berhenti tiba-tiba dalam dua hari. Sediih sekali ketika kakak berhenti mimi. Selama dua sampai tiga minggu kakak jadi lebih rewel dalam penyesuaian diri tidak menyusui. Alhamdulillah ayah selalu bantu bunda gendong kakak kalau mau tidur malam karna bunda suka kelelahan menggendong kakak seharian. Sejak itu kakak minum susu UHT cair sampai sekarang. Maaf ya kaka karna tidak sempurna dua tahun. Semoga selama satu tahun tiga bulan itu menjadikan ikatan yang kuat antara bunda dan kakak, semoga Allah memberkahi kakak di setiap jenjang umurmu dan menjadikan kakak anak sholehah yang lembut seperti namamu Althafunnisa.. aamiiin..