Jumat, 16 Februari 2018

Nikmat Sehat

Sehat.. betapa nikmat Allah yang sering kita lupa. Ingat kalau sudah sakit lalu ingin sehat.

Bulan februari ini alhamdulillah bunda dan ade Bia sejak akhir Januari lalu selesai minum obat paru. Sembilan bulan bunda dan ade meminum rutin obat dokter. Dulu ketika divonis TB rasanya sedih melihat orang-orang yang bunda sayang sedih karna bunda nak. Apalagi bunda sempat muntah darah di rumah mbah titi. Betapa was-wasnya mbah titi dan ayah yang membantu bunda memegang piring wadah muntah darah bunda. Sebulan kemudian ade dinyatakan sakit yang sama oleh dokter. Rasanya sedih.

Menjelang ade berusia dua tahun di bulan januari, bunda terkena cacar air. Tak lama berselang kakak Sarah dan ade Shabira pun tertular cacar. Sebelumnya kakak Sarah sakit gejala tipes. Dan dokter sempat bilang kalau kakak Sarah ga mau makan maka kakak harus dirawat di rumah sakit. Alhamdulillah kakak paham dan kakak memilih makan walaupun mungkin rasanya ga keruan karna kakak ga mau dirawat di rumah sakit. Sakit estafet. Alhamdulillah ayah sehat, sakitnya paling-paling masuk angin. Kalau bunda sakit, ayah yang mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga.

Ya Allah betapa nikmatnya sehat. Belum lagi kalau orangtua ayah dan bunda sehat. Semoga segala kesakitan dan kelelahan menjadi penggugur dosa-dosa ayah dan bunda. Aamiiin..



#Day5
#16feb2018
#KelasPortofolioAnakbyGPA #GriyaPortofolioAnak #MengikatMaknaSepenuhCinta #PekaAkanUnikAnak

posted from Bloggeroid

Rabu, 14 Februari 2018

Aku dan Rumahku

Alhamdulillah sudah tiga tahunan aku dan keluarga tinggal di kampung lio. Rumah dengan pemukiman padat penduduk dengan ekonomi rata-rata menengah kebawah. Meski banyak juga menengah keatas. Ini adalah rumah seorang teman yang kami tempati tanpa bayar. Alih-alih bayar kontrakan, aku malah dibayar untuk honor mengajar TPA.

Ya Allah alhamdulillah. Kami tinggal di rumah yang padat aktivitas. Senin sampai kamis ada TK dan TPA gratis. Jumat ada tahsin, liqo, parenting. Sabtu sore ada tahsin. Minggu sore sampai malam ada tahsin juga. Dari awal keluarga kecil kami diizinkan tinggal di rumah Bu Wati ini, memang sudah ada TK dan TPA. Kegiatan lainnya menyusul setelah kami disini.

Alhamdulillah kami tinggal di rumah yang baik, yang di dalamnya terhimpun kegiatan yang baik. Belajar dan mengajar Al-Quran. Meskipun yang aku rasakan lingkungan sekitar kurang baik, tapi rumah ini seperti menunjukkan diantara pasti ada kebaikan.

Seorang teman berkata "Kalau kita ga mau ikut arus lingkungan yang buruk, maka ciptakan sendiri lingkungan kebaikan". Alhamdulillah rumah ini bisa menciptakan lingkungan kebaikannya sendiri. Tanpa aku susah membangun dari awal. Aku hanya tinggal meneruskan kebaikan rumah ini.

Mudah-mudahan keluarga kecil kamk bisa terus menambah kebaikan rumah ini dan menambah kebaikan pada lingkungan sekitarnya. Aamiiin..

Ya Allah berkahilah rumah ini. Berkahilah pemiliknya. Berkahilah yang tinggal di dalamnya. Berkahilah murid, santri yang belajar di dalamnya. Berkahilah guru-gurunya. Berkahilah tamu-tamu yang datang ke dalamnya. Serta berkahilah lingkungan sekitarnya. Aamiiin

#day4 #15Feb18#KelasPortofolioAnakbyGPA #GriyaPortofolioAnak #MengikatMaknaSepenuhCinta #PekaAkanUnikAnak

Tentang Gadisku

Adalah Sarah Savaira Althafunnisa.

Gadis kecil yang baru saja berusia empat tahun. Masih jelas di ingatan prosesi kelahirannya di pagi hari. Wajahnya yang putih bersih, bibirnya yang merah merekah menambahkan aroma kebahagiaan baru bagi keluarga kecil kami. Tak lupa ibu yang senang akan kelahiran cucu kandung pertamanya. Ibu yang menggendongnya di perjalanan pulang menuju rumah, menepis tanganku yang masih ingin lekat dengan gadisku selepas berjuang sekuat tenaga melahirkannya.

Kini ia berusia empat tahun tak terasa sudah. Ia gadis kecil yang ceria terlepas dari bagaimana ketika ia merajuk. Ia juga gadis yang cerdas. Kemampuannya menghapal surat-surat pendek setara dengan kemampuan kognitif lainnya seperti menulis dan mengenal alphabet. Pandai menggambar seperti bundanya. Kemampuannya mewarnai juga semakin hari semakin lebih baik. Ia bisa belajar dengan mendengar atau melihat. Melihat bundanya menggambar lalu di kemudian hari ia bisa menirukan apa yang bundanya gambar.

Ia juga sayang adiknya. Sering membantu adiknya mengambil puding di kulkas misalnya. Membantu adiknya cuci tangan, menggandeng tangan adiknya ketika di jalan, kadang ia menyuapi makan adiknya. Ia juga sayang bonekanya. Layaknya perempuan dewasa yang menggendong bayi kecil. Punya adik membuat ia lebih dewasa.

Ia anak yang ekspresif. Tertawanya lepas begitu juga tangisnya. Berbeda dengan adiknya. Masing-masing punya keunikan.

Fatimah Qonita Shabira atau biasa dipanggil Bia. Begitu ia memanggil dirinya sendiri. Mirip dengan kakaknya ketika lahir. Wajah putih bersih dengan bibir merah merekah. Tidak banyak menangis ketika bayi. Cepat sekali dibujuk ketika menangis. Tangisnya akan langsung teralihkan ketika ditunjukkan gambar unta di buku atau kucing yang sedang berjalan atau pesawat yang terbang di langit. Di usianya yang dua tahun ini adik sudah bisa baca surat al-fatihah, an-nas, doa penutup majelis dengan logatnya yang masih cadel. Masya Allah.

Shabira juga anak yang ekspresif seperti kakaknya, sering sekali olah tubuhnya membuat ayah dan bundanya tertawa. Banyak bicara dan perhatian kepada orang lain. Misalnya saja ia akan bertanya kepada mbahnya 'mbah lagi macak ya?' atau 'bunda lagi wudu ya? mau colat?. Alhamdulillah di usia dua tahun ini adik sudah ga mimi lagi.

Ya Allah semoga kakak dan adik menjadi anak-anak qurrota'ayun bagi ayah dan bundanya. Aamiiin..

#day3
#14feb18
#Depok
#Sarah4yShabira2y #KelasPortofolioAnakbyGPA #GriyaPortofolioAnak #MengikatMaknaSepenuhCinta #PekaAkanUnikAnak

Selasa, 13 Februari 2018

Tentang Dia

Kekasihku, pasangan hidupku, sahabatku, teman baikku..

Ia adalah suamiku. Suami yang sederhana. Aku bersyukur memilikinya. Tidak pernah menuntut banyak dariku sementara aku banyak menuntut darinya. Ia banyak membantu pekerjaan rumah seperti yang dilakukan Rasulullah kepada para istrinya. Ia menjahit sendiri kancing bajunya yang lepas. Menyiapkan sendiri makanan sahur di puasa sunahnya.

Tidak pernah ia membentakku ketika marah. Ia hapuskan air mataku ketika menangis. Meski aku menangis karena kesalahanku. Ia memaafkan sebelum aku meminta maaf kepadanya.

Suamiku.. pemimpinku, imamku yang kadang aku lupa untuk selalu taat padanya. Ia yang tak keberatan mengasuh anak-anak saat aku butuh ruang untuk sendiri tanpa mereka. Ia senang mencandai gadis-gadis kecilnya hingga mereka tertawa terpingkal-pingkal. Tak pernah mengeluh lelah sepulang mencari nafkah. Punggungnya tak segan ia tawarkan sebagai tunggangan gadis-gadis yang selalu merindunya cepat pulang ke rumah. Ketika gadisnya sakit, ia tak ingin tertinggal membantuku menggendongnya. Ketika aku sakit ia mengambil alih semua pekerjaanku.
Ia.. suamiku yang paling ganteng di rumah. Merindu lelaki kecil yang kelak akan menjagaku di masa tuaku.

Suamiku.. yang sering mengalah padaku, yang akan diminta pertanggungjawabannya oleh Allah tentang bagaimana ia mendidikku menjadi istri yang sholehah. Ia yang sering meluluhkan hatiku karna kebaikannya. Ia yang tegas ketika aku salah. Betapa kurang taatku kepadanya.

Ya Allah.. perbaikilah urusannya di dunia, mudahkan rizkinya, berkahilah umurnya, tambahkanlah ketaatannya, tambahkan ilmunya, kuatkan izzahnya.. pertemukanlah kami di surgamu kelak ya Allah.



#day2
#13feb2018
#KelasPortofolioAnakbyGPA #GriyaPortofolioAnak #MengikatMaknaSepenuhCinta #PekaAkanUnikAnak

posted from Bloggeroid

Senin, 12 Februari 2018

Tentang Aku..

Bismillah...

Alhamdulillah bisa menyempatkan menulis lagi. Menunggu anak-anak tidur nyenyak. Tapi kantuk membuat saya ikut tertidur juga. Terbangun dengan perasaan kaget karna niat mau menulis, malah tertidur.

Ini tentang saya. Anak bungsu dari tiga bersaudara. Lahir diantara kedua orangtua yang keras. Dari Taman Kanak-kanak saya sudah menunjukkan potensi kecerdasan saya. Sekolah selalu di sekolah negeri sampai saya kuliah. Saya duduk di bangku sekolah SMP, SMA, dan kuliah di universitas terbaik di depok. Saya bersyukur karna bisa membantu orangtua dengan beban biaya sekolah yang ringan dibandingkan jika saya sekolah di sekolah swasta. Dan saya bangga ketika menceritakan ini ke murid-murid les saya dulu.

Saya cenderung anak yang pendiam tidak banyak bicara seperti bapak. Sifat saya banyak diturunkan dari bapak. Bapak saya suka menggambar dan gambarnya bagus. Saya pun mengikuti kesukaannya dalam menggambar. Terbukti dengan saya meraih juara 1 dalam lomba desain stiker ketika SMA. Alhamdulillah keahlian menggambar ini saya pakai hingga hari ini. Darah seni yang mengalir dari seorang bapak. Bapak orang yang hidup sederhana dan banyak memberi. Rumahnya adalah rumah tempat orang-orang mencari meminta bantuan. Saya pun merasakan sifat suka memberi ini dari bapak.

Saya orang yang suka merencanakan, tapi tidak mudah menjadi eksekutor. Karna itu saya lebih cocok jadi pemimpin dalam kelompok.

Diluar rintik hujan berselimutkan udara dingin sudah mulai menemani saya. Sekian dulu menulisnya. Mudah-mudah esok hari bisa menulis lebih baik lagi. Aamiiin..